Warga Desa Pasanggar Membantu Rehab RTLH Pakai Sarung

PENAWARTA.COM – PAMEKASAN, Perehapan rumah tidak layak huni (RTLH) dalam program TMMD ke-103 Kodim 0826/Pamekasan ada keunikan tersendiri, nampak warga masyarakat yang membantu TNI Manunggal Membangun Desa bekerja dengan mengenakan kain sarung. Sempat terlintas dalam pemikiran anggota satgas TMMD yang berasal dari luar pulau madura, kenapa orang Madura kesehariannya umumnya pakai kain sarung, namun sebelum sempat bertanya ada salah satu warga masyarakat yang menjelasakan tentang keseharian warga masyarakat madura, Sabtu (03-11-2018).

Keseharian masyarakat madura memang tidak terlepas dari sarung, sarung bagi orang Madura bukan sekedar pakaian tetapi menjadi identitas yang melekat pada dirinya.

“Memang tidak bisa kita men-generalisir, karena ada sebagian orang Madura yang memakai celana. Tetapi bolehlah kita katakan bahwa sarung itu identitas warga masyarakat Madura,” kata warga setempat.

Bagi orang Madura, terutama mereka yang tinggal di pedesaan, sarung menjadi pakaian yang multi fungsi. Dikala musim hujan datang, sarung bisa dijadikan selimut. Itu karena orang Madura di pedesaan tidurnya setengah melingkar (tidur pistol) seperti udang.

Jadi sarung bisa menutupi bagian kaki hingga kepalanya. Bisa juga dipakai saat musim panas karena pemakaian sarung sangat longgar sehingga memungkinkan udara masuk ke sela-sela badannya.

Kelebihan memakai sarung bukan hanya itu saja,orang madura pergi ke sawah juga memakai sarung, menurutnya sarung bisa di gulung hingga lutut sehingga tidak kotor terkena percikan lumpur.

Apabila bepergian jauh langsung dijadikan pakain untuk solat kala tengah perjalanan. Bahkan orang Madura yang sudah terbiasa memakai sarung, meskipun memakai celana sering menyelipkan sarung di tasnya khawatir celananya terkena najis.

Bagi orang Madura memakai kain sarung sudah terbiasa sejak masa anak-anak. Para orang tua mereka mulai memperkenalkan sarung ketika sang anak belajar mengaji. Jadi, ketika sang anak sudah beranjak dewasa dan mengenyam pendidikan pesantren, mereka terbiasa dengan pemakaian sarung yang relatif menjadi pakaian ‘wajib’ santri dalam kesehariannya. (PENAWARTA-03)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s